terbang risalah melangit

 

   Waktu itu emas,

Waktu bagaikan pedang,

Harus pinter pinter dalam bercara, luruskan niat.

Kutatap layar ponselku, barusan adalah kalimat nasihat dari ibuku. Kalimat yang selalu sama, dan untuk siapa. Kakaku, aku, ataupun adikku.

Perkenalkan, ia adalah ibuku.

Malaikat bersayap kasih bercahaya cinta.

Jika ada yang bertanya, siapa yang paling menginspirasi hidupmu? Dengan lantang aku akan menjawab

“Ibuku,lalu ayahku”

Bukan dengan baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam? Oh, itu tentu. Tidak bisa diganggu gugat dan dipertanyakan.

Bukan maksud berlebih aku mengidolakan sosoknya, tapi karena cintaku menjelaskan segalanya. Ibuku memang bukan seseorang yang religius karena berlatar belakang agama ataupun lulusan pondok pesantren, tidak sama sekali.Ibu berlatar belakang ilmu pariwisata dan pendidikan.

Lho? Iya, dahulu ibuku pernah menjadi tour guide andalan di salah satu jasa pariwisata ternama di indonesia. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara, mempelajari bahasa asing, hingga cahaya tarbiyah itulah begitu terik di mata ibuku. Bisa dibilang,  Ibuku adalah seorang religius yang mencari sendiri cahayanya.

Tiada kata terlambat selama kita betul betul merindukan cahaya itu, pesan ibu.

Yang paling teringat adalah saat aku kecil, aku selalu diceritakan tentang Kisah perjalanan Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam dan sahabatnya sebelum tidur, juga kisah kisah nabi yang lain. Ibu banyak membeli buku buku, bahkan diusiaku yang belum genap 2 tahun, ibu sudah menyiapkan semuanya. Juga karena kehadiran kakak sebelumnya. Buku itu tidak bertahan lama, baru berumur 2 hari, sudah robek ataupun terkena tumpahan minuman. Paling panjang usia nya sampai 4 tahun, itu pun sang buku diberi julukan ‘bang toyib’ karena entah tiba tiba tercecer dan ditemukan dimana.

Aku selalu bangga ketika aku membawa camilan unik, kuangkat tinggi tinggi

“ini buatan ibu “

Aku pun banyak belajar tentang bersosial dari ibu,

“ jadi anak muslihah, sholehahnya jangan disimpen sendiri. Menolong orang lain, banyakin kebaikan secara diam diam, karena itu ujian keikhlasan kamu. Harus baik dan punya peran di lingkungan,tapi inget orang orang terdekat harus dibahagiakan dulu, kalau sudah selesai baru menuju yang lain”

Sering sekali aku melihat ibu berada di tengah tengah masyarakat, memberi nasehat atau bahkan hanya sekedar menyapa. Ibu pun sangat  memberi perhatian khusus terhadap keluarga, bagaimana ibu mencintai keluarganya, bagaimana tangis ibu yang begitu dalam saat tengah malam, berdoa untuk kebaikan keluarga nya dan muslimin yang lainya. Ibu banyak menghabiskan kegiatan didalam,memaksimalkan segalanya. Jika saja kala itu teknologi sudah secanggih sekarang,ingin kuabadikan setiap momen itu supaya bisa kuingat,kupraktekkan. Namun  ternyata, memori hati dan akal yang Allah berikan jauh lebih canggih dan lebih berbekas efeknya .

Ah, senang sekali membahas masa kecil itu.


Kulihat jarum pada jam dinding, sudah pukul 14.45 dan diusiaku yang sudah lebih 1 angka dari kepala dua.

Aku tidak sedang bersama ibu, aku berada 174 km jauhnya. Dan rindu itu selalu tergambar sama, dengan pola dan warna yang tak berubah.  Kau tahu, banyak sekali kekhawatiran pada saat diri tak bersanding dengan ibu. Semuanya sudah terpola dengan kesiapan,kesiapan dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Hal yang selalu kuingat adalah, bahwa kita tak selamanya bersama  dengan orang yang kita cintai, tidak selalu 24 jam x 7 hari kita mengawasi,selalu ada kealpha an yanh diwajarkan. Namun, ada Sang penjaga dari sebaik baik penjaga, tak pernah tidur, tak pernah lengah. KuasaNya membentang , meliputi cinta kita padaNya. Itulah yang selalu menjadi benteng bagiku,doa dan interaksiku dengan KalamNya. Karena banyak sekali orang yang mengaku cinta terhadap ibunya, mengaku sayang, tapi tak ada sepatahpun doa yang dipanjatkan untuknya, jangankan doa, berbuat baik sebagai washilah birrul walidain pun tak juga. Cinta dan kasih hanya dibahasakan dalam 1 hari.

Hari ibu

Memberi bunga, memberi  ucapan, turut memeriahkan hari yang sebenarnya, tahu sejarahnya saja tidak.

Aku tak ingin ibu dicintai dengan sebegitu remehnya

Aku ingin ibu dicintai oleh makhluk langit, yang namanya selalu ramai dibicarakan makhluk langit, yang namanya selalu terselip dalam doa orang orang sholih

Aku ingin makhluk dunia merasakan keikhlasan dan ketulusan hatinya

Ibu, biarkan semuanya tahu bahwa kini aku merindukanmu…

 






Comments

Post a Comment

Popular Posts