refleksi sejenak
Sesungguhnya, tujuan akhir bagi setiap muslim adalah mendapatkan keridhoan Allah ta’ala. Karenanya, semua tujuan kecil wajib mewujudkan tujuan tersebut,langsung ataupun tidak langsung. Setiap tujuan kecil adalah sarana menuju tujuan terbesar. Keabsahan dan ruhnya juga harus diambil dari keabsahan dan ruh tujuan terbesar. Tetap saja yang paling penting adalah,kelihaian pendidik dalam mengetahui kebutuhan terbesar dan sisi yang memerlukan perhatian paling besar.
( DR. Abdul Karim Bakkar )
Ilmu itu rapuh tanpa adanya sebuah bukti, maka islam
sudah memilikinya jauh jauh hari, bukti berupa kalam yang makna nya takkan mati
walaupun kalam yang lain sudah berkali kali direvisi. Terbesit sebuah ayat
dalam surah Ash Shaf ayat 8-9 :
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ
بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿ ٨﴾ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ
بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُونَ ﴿ ٩﴾
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu
daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau
orang-orang kafir membencinya". Dialah yang mengutus Rasul-Nya
dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas
segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Pertanyaan nya, seperti apa bentuk kesadaran tentang
agama?
Menurut Hasan Al Banna, kesadaran tersebut meliputi
beberapa hal.
Pertama,kesadaran agama yang dicapai oleh setiap pribadi
muslim,baik dalam hal pemikiran,aqidah,akhlak,perasaan,amalan,dan segala hasil
perbuatannya. Itulah kesadaran yang wajib ada dalam diri kita,
Selanjutnya, adalah kesadaran agama yang dicapai oleh
keluarga. Dengan kesadaran ini,terbentuklah keluarga islami,baik dalam hal
pemikiran,aqidah,akhlak,ataupun perasaan. Tentu,konteks keluarga yang dimaksud
meliputi pria dan wanita,serta anak anak
dan pemuda. Itulah unsur keluarga kita.
Setelah keluarga, kesadaran ini meluas kepada masyarakat
muslim secara umum. Oleh karena itu kita wajib berusaha agar dakwah islam bisa
diterima oleh setiap individu dan keluarga.
Lebih jauh lagi,seperti yang kita harapkan
bersama,kesadaran agama ini juga mencakup pemerintahan. Dengan
demikian,muncullah pemimpin pemimpin islami yang mengajak masyarakat untuk
kembali ke masjid dan menuntun semua individu sesuai petunjuk islam. {
tarbiyyatusyyababul muslim lil abai wa da’wah, Dr.Khalid Ahmad Asy Syantut }
Sebagaimana kalimat ‘ semoga Allah rahmati Rasulullah dan
keluarganya,sahabat, tabiin, tabiut tabiin tabiahum dan para pengikutnya hingga
akhir zaman’ yang ingin saya garis bawahi adalah para pengikutnya, ya adalah
kita.
Namun sayangnya, kita sendiri pun belum betul betul
memahami apa arti pengikut dengan tabiat mengikuti itu. Semangat sekali diri
kita melantunkannya, menjadikannya sebagai kalimat sacral dalam berbagai
pembukaan sesi, namun jika harus jujur dalam berbicara, jika harus jujur dalam
berperilaku, jika harus jujur dalam amal keseharian, sudahkah kita betul betul
mengikuti segala perbuatan,perkataan dan keseharian Rasulullah secara jujur?
Misalnya satu saja, kegelisahan.
Baiklah, izinkan saya memulai ittiba’ Rasul ini dengan
rasa gundah, sebagaimana dahulu Rasulullah pun mengawali alur peradaban denga n
kegundahan.
Kegundahan itu berasal dari pemandangan berupa lelahnya
masyarakat, pemerintah, berpusing bahkan mengorek kocek yang tak sedikit demi
melakukan ekspedisi penelitian dengan judul besar
Bagaimana memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia
menjadi lebih baik?
Terbangun sudah gedung gedung mewah bertajuk Lembaga
Pendidikan, tercatat sudah berbagai kurikulum inovasi,revisi,kualisi, hingga
saling berkompetisi. 2 huruf tambahan dibelakang nama pun sudah rapi tercatat
membawa nama pendidikan.
Namun sudahkan pendidikan ini menjadi seindah bayangan
yang didamba?
Atau justru sebaliknya?
Akan saya kembalikan jawaban ini kepada diri masing
masing. Biarkan iman dan ilmu bersinergi menjadi kesimpulan apik.
Ingat dan catat baik baik hadist ini,
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ،
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua
orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”
Dalam haditsnya, nabi menyebutkan “ kedua orangtuanya “
Maka sudah bisa ditebak, bahwa orangtua, keluarga nya lah
menjadi tumpuannya. Mengutip dari perkataan gurunda, Waalid Ilham, “ sebaik
baik kita hari ini, kita sudah lebih dahulu disucikan oleh orangtua kita “
Dalam buku ini disebutkan, mengenai tahapan pendidikan
dalam manhaj Nubuwwah, urutan , bahkan kaifiyyah dari kaidah yang ada.
Ada beberapa sajian apik yang terus menjadi magnet bagi
saya. Menyibak teori barat yang katanya sudah sangat ramah anak. Ternyata, perjalanan ini panjang dengan
persiapan yang juga harus matang. Dimulai dari memilih pasangan adalah
tombaknya.
Bagaimana kriteria pasangan yang sama sama bervisi besar
dan mau beraksi benar, karena memilih pasangan sama saja memilih fondasi
bangunan, pengaruhnya bercabang, yang paling Nampak adalah bagaimana nanti
pasangan kita betul betul menjadi partner pendidik yang berilmu,beriman,dan
kuat.
Karena mendidik bukan hanya berilmu tinggi, harus
disatukan dengan iman, muruah dan
kekuatan. Bukan hanya itu saja,
Kewajiban menjadikan rumahku syurgaku pun tak boleh
terlewat.
Mengutip perkataan gurunda, ust. Hervi Ghulam Faizi,Lc
Nikah itu isinya, bercanda, romantis, bercanda lagi
Jika kekuatan suami seterik matahari, maka kelembutan
istri pun harus setenang malam. Suami yang tak banyak menuntut, dan istri yang
tak banyak bertanya.
Ada masanya untuk bertanya lebih, ada masanya istri harus
menepis egonya untuk menghargai dan
menjadi rumah yang damai bagi suami.
Ada masanya istri harus bertutur lebih tuk anaknya, ada
masanya istri harus bertutur seadanya tuk padamkan amarah sang suami.
Ada masanya suami harus rela meluangkan waktunya tuk
menjadi pundak dan tempat bercerita
Ada masanya suami harus rela menepis rasa lelahnya tuh
membantu istri melakukan pekerjaan rumah tangga,
Semua sinergi itu karena cinta. Karena Allah hadirkan
iman dan yakin dalam cinta itu.
Maka sungguh indah Allah ciptakan cinta
Hingga cinta itu berbuah, menjadi sosok manusia yang
matanya sebagai pelipur lara, yang kehadiranya menyempurnakan rasa percaya.
Bahwa Allah titipkan ia, untuk sebuah alasan peradaban. Peradaban yang
dilandasi rasa cinta dan bahagia.
Inilah narasi yang tak ada dalam scenario pendidikan
manapun selain pendidikan islam. Narasi yang akan terus berlanjut alurnya
hingga pena terakhir peradaban itu tuliskan kalimat tuk mengagungkan Tuhan nya.
Amanah berupa mengurus bumi bukan hanya karangan fiksi,
amanah itu terus hidup, ditopang oleh nafas panjang pendidikan.
Latih anak kita supaya terus mampu bernafas, jantungnya
mampu berdetak dzikir penuh khidmat, aliran darahnya terus berjalan menyusuri
tapak tapak nubuwwah. Dan risalah itu diperuntukan untuk kita.
Generasi akhir zaman, generasi yang disebut rasulullah
sebagai pembebas kota yang dahulu dijanjikan. Percayalah, kita ini generasi
terhormat. Bagaimana mungkin Rasulullah menyerahkan bisyarahnya kepada kit
ajika kita bukan generasi hebat?
Maka jangan jatuhkan harga diri kita, karena Rasulullah
pun sudah lebih dahulu meninggikan derajat kita.
Wahai diriku, apa kabar ilmu mu?
Apa kabar imanmu?
Apa kabar kondisi kekuatanmu?
Sudahkah mampu dan pantas menjadi tumpu?
Yaa Allah, bimbinglah kami




Comments
Post a Comment