manuskrip
" menginjak usia 20 ini sepertinya makin ada ada saja "
matanya menatap lurus ke depan, mengamati lampu kota yogyakarta dari atas bukit bintang. sesekali menyeruput caramel machiatto kegemarannya.
" apa maksudmu? " gadis di sebelahnya bertanya,
" banyak hal. yang segalanya seperti baru dan yaa, bisa jadi amat mengejutkan bukan? "
".... namun ini fasenya, bagiku ketika kita melihat kembali sejarah Rasulullah, batu batu thaif dan pasir pasir mekkah masih lebih menyakitkan dibanding dengan persoalan kita bukan? "
gadis di sebelahnya mengangguk lagi.
" ya begitulah,..namun tak semuanya sadar akan itu. Dan aku rasa, dahulu madinah tidak lebih baik untuk masyarakat yang pandai berdagang seperti mekkah "
" ..... madinah lebih efektif untuk hasil alamnya bukan? tak tertandingi "
gadis itu mengangguk lagi
" maka dari situlah, aku begitu percaya pada manuskrip langit, saat ini rasanya begitu terkubur dengan dongeng dongeng pengantar tidur yang fiksi. hingga rasanya mudah sekali hata, padahal persitensi masih menjadi pilihan terbaik untuk mengulang sejarah dan menjadi pelakon baik didalamnya "
matanya menutup, menghembuskan nafas. kembali lagi kisah, menyalakan lampu peradaban yang sempat padam.
bersambung..




Comments
Post a Comment