kasidah bumi syam
Dewasa ini, aku mendengar banyak kasidah perihal bercara atau sekedar memandang, Sayangnya entah hanya beberapa makna saja yang bisa kusederhanakan, beberapa zarah pelik yang disahajakan. Perihal hati tentu masih saja berharap, berlomba dengan masa
"jangan begitu.." tukas wanita di sebrang sana
"dalam memberi kasidah pun ia telah menyaring. Memberi takaran yang pas supaya yang menyimak tidak pesimis dengan apa yang disampaikan.."
nyengir, "tidak bu,aku tidak merasa ada jiwa yang hidup disana, terlalu genit untuk kasidah dan intelektual"
"jangan terlalu dibawa serius, dunia butuh canda.."
aku tertawa,
Teringat kisah dari Syaikh Ghiyats Baqi tentang Majelis Jejak Nabi, Negeri Para Nabi. Bagi sebagian orang,ada yang mengira bahwa Madinah dan Makkah-lah negeri para Nabi, pendapat ini tidak salah, hanya saja kalau ditelisik dan dikasarkan sejarahnya, maka ada jawaban yang paling Rajih dan Bijaksana, Syam namanya. Namun bukan kisah beliau yang ingin kusampaikan.
Kisah canda yang mewangi oleh kasidah lama manusia terdahulu. Masih renyah tapi berpusaka.
Syaikh Abu Bakar Al-Awawidah-ketua Rabithah Ulama Paletina yang bermukim di Damaskus-Beliau buta sebab disiksa Yahudi-Berkisah saat beliau dipenjara, beliau dihardik dalam ritual penyiksaan pagi.
"Pilihanmu hanya 3" gertak sang sipir "hentikan semua ini! Atau hukuman mati! Atau dibuang ke negeri jauh"
amboi, apa sang si sipir ini bodoh atau bagaimana? ancaman macam apa ini? hanya menggelikan sisi perut muslim.
Jika hanya diancam mati, justru riang betul muslim. Mati, menjadi syahid. Mewangi di dunia,berkumpul dengan saudara lama di syurga, menikmati hidangan, dilayani oleh bidadari syurga. Tak payahlah merasa pelik dengan persoalan duniawi yang semakin mengada-ada.
"Jika hanya diancam mati, itu bukan ancaman tuan," pikirku liar "itu lah cita-cita muslim"
Benarlah, respon sang Syaikh pun sama, " Alhamdulillah. Kasidah Ibnu Taimiyyah, kalau dipenjara begini,rasanya rehat dan nikmat berdua dengan Allah. Kalau dibuang berarti saya tamasya ke banyak tempat. Dan kalau dibunuh, aku bertemu dengan Allah yang menjadi tujuanku!"
Bukan nian marah si sipir, tangannya menggebrak meja keras. "Kurang ajar! Di mana Ibnu Taimiyah tinggal,hah?! Kami pasti akan menangkapnya" geram si sipir
"Di kuburan Damaskus" jawab Syaikh enteng
Maka sudah terbayanglah apa reaksi si sipir. Tak jadi mericau dengan ancaman lain, bukanya takut,malah berharap.
Jangan jadi seburuk-buruk pencuri, yaitu pencuri harapan- kasidah gurunda, Ustd, Salim A.Fillah
Ada lelucon lain yang berkicau, masih di bumi Palestina
Para Tawanan sering meminta izin shalat dan memperlambat lamanya sholat guna menghindari siksaan. Begitu pula yang dicontohkan Syekh Abu bakr
"Aku mau shalat.Nanti kuceritakan sejarah hubungan di antara negeri kita dan semua informasi yang pasti akan memuaskanmu!" si sipir mengiyakan.
Maka Syekh pun shalat dengan membaca surah Al-Baqarah dari awal sampai akhir
Begitu usai shalat, si sipir tersenyum meski gusar kelamaan menunggu,"Ok, Ayo ceritakan semua informasi yang tadi kau janjikan!"
"Lho, kan sudah baru saja saya kisahkan lengkap sambil shalat" Jawab Syaikh
"Apa maksudmu?"
"Oh," sahut Syaikh, "jadi anda tidak menyimak? Baik,akan saya ulangi shalat saya! "
Banyak kasidah yang berserakan di Linimasa, jika ada yang menghimpun, mungkin sudah menjadi karya legendaris yang banyak diminati. Sayangnya, tidak semua menikmati satu sumber air jernih , terbilang banyak yang lebih menyukai satu tetes air mata keruh tuk dikaji dan dijadikan sumber berevolusi.
Maka tuntas sudah, kasidah tanpa jiwa
Kasidah yang berjalan secara berjingkat, dari satu penutur ke penutur yang lain.
sebagai penghibur belaka,bukan penenang.
insprasi : Menyimak kicau merajut makna, Salim A.Fillah



Indah nian setiap kata yang kau tutur
ReplyDeleteTak bosan bosannya saya melantur
Mengaharap kata kian membaik dan teratur
Biar dulu kau sampai
Biar aku mulai belajar
Terimakasih kasidah penutur