pulang,lagi?
Dahulu, sebelum Rasulullah diangkat menjadi nabi dan Rasul, beliau mengasingkan diri di Gua Hira. Kisahnya masyhur sekali, ahli sejarah,pakar peneliti,bahkan para da’I pun sudah berkali-kali menceritakan bagian ini.
Namun sayangnya, bagian yang ditonjolkan, hanya pada ‘Rasulullah
yang berdiam diri’ , ‘Rasulullah lelah dengan perilaku kaum Quraisy’, ‘Rasulullah
tidak tahan dengan kebiasaan jahiliyyah’. Padahal, banyak sekali isyarat metode,
bahkan rasa yang beliau ingin tularkan dan beliau ajarkan kepada ummatnya .
Ada resah dan kegundahan yang nantinya menjadi efek luarbiasa
bagi Makkah dan Jazirah arab
Ada pikiran,dan hati yang berkecambuk atau biasa kita kenal
dengan istilah Overwhelmed- Rasul pun pernah merasakan hal
itu,sebagai manusia biasa-bertemu dengan lantunan doa yang akan dirasakan bertahun
tahun lamanya, hingga kita saat ini
Hal ini terjadi jauh sebelum Jibril datang menyampaikan
wahyu
Kegundahan.
Apa yang akan kita lakukan jika berada dalam kondisi
terhimpit, resah,tidak suka, marah,bercampur aduk menjadi satu?
Masing masing kita pun berbeda dalam mengatasinya. Ada yang
berkobar dengan amarahnya, ada yang memilih diam namun hatinya ricuh
,berisik,dan bergemuruh mengucapkan sampah serapah, ada pula yang mencari
tempat bercerita, lalu menceritakan hal yang terjadi padanya,dan ada yang
tenang,menganalisa baik-baik,sebenarnya aku ini kenapa?
Sebenarnya,aku yang salah atau kondisi nya memang patut
untuk diresahkan?
Sebenarnya, hanya pikiranku saja atau memang benar kalau
ini salah?
Sebenarnya, sudah benar belum aku ini dalam beramal?
Disaat itulah, kesadaran dan hati kita akan menuntun bahwa ‘aku
ini butuh ilmu, aku butuh ilmu untuk mengimui diriku sendiri’
Haq dan Bathil itu selalu berjalan beriringan,lihat
kecondongan hati kita mengarah kemana.
Rasulullah pun demikian, meski saat itu beliau adalah
seorang yang Ummi-tidak bisa baca tulis-namun, beliau memiliki
bashirah,pandangan yang dalam, dan hati yang senantiasa dekat dengan TuhanNya.
Karena ilmu selalu bergaris lurus dengan taufik dan hidayah, darimana taufik
itu datang?
Dari hati yang senantiasa dekat dengan RabbNya
Ummi itu akan menjadi bukti kemukjizatan bagi diri
beliau, supaya memahamkan manusia bahwa Al Qur’an bukanlah kalam yang dibuatnya
sendiri
Isyarat yang Rasul berikan pada peristiwa ini ada banyak
sekali,dan akan kita bedah satu-satu. Namun dilaman ini kita mulai dari isyarat
metode dahulu saja ya..
Kalau kita bahas mengenai metode, ada banyak sekali pengertian
yang mewakili makna metode
Dalam KBBI, metode bermakna prosedur, teknik, atau langkah
untuk melakukan sesuatu, terutama untuk mencapai tujuan tertentu
Dalam kajian metode penciptaan lanjut 2021, yang dilansir oleh
Portal Spada Universitas sebelas Maret, Metode (method), secara harfiah berarti
cara. Metode atau metodik berasal dari bahasa Yunani, metha (melalui atau
melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau
cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu
Lalu, yang akan kita bahas disini adalah metode Rasulullah
dalam menghadapi suatu keresahan
Sebelumnya, ada hal yang harus digaris bawahi, bahwa
keresahan dan kegundahan itu adalah hal wajib yang harus dimiliki setiap
manusia. Kalau hidup kita tidak pernah merasakan keresahan, maka yang terjadi
kita akan selalu merasa baik-baik saja, benar dan mengganggap semua yang
terjadi memang sudah ditakdirkan terjadi.
Kalau bicara takdir, akan panjang nantinya. Karena takdir
pun memiliki 2 cabang turunan yang ketika
dijabarkan harus disertai pemahaman ilmu,tapi tidak kita bahas sekarang.
Sebenarnya, hal yang kita lakukan sudah betul-betul benar? Atau
sesuatu yang kita benar-kan?
Sebenarnya, hal yang sedang kita jalani sekarang sudah
sesuai dengan petunjuk Allah, atau nafsu pribadi kita?
Eits, jangan kira bahwa Iblis menggoda manusia dengan opsi
salah/benar saja. Semakin naik level kualitas manusia, maka semakin tinggi pula
godaannya. Bukan lagi baik buruk opsi nya
Tapi memilih yang terbaik dari pilihan yang baik.
Nah, susah nih kalau sudah begini
Tapi, tenang. Karena Rasulullah sudah ajarkan. Dengan apa opsi
terbaik ketika kita mengalami resah/gundah/overthinking?
Ber-uzzlah, menepi dari keramaian
Sebagaimana hakikat kita didunia, adalah berjalan
sebagaimana orang asing.
Sesekali, kita harus berdiam, menepi, menanggapi risalah
hati.
Resahlah ketika kita tidak lagi menikmati jalan kebaikan
yang sudah Allah sediakan, resahlah ketika kita merasa ‘baik-baik’saja dengan
hal yang sudah jauh dari syariat. Resahlah ketika hanya mementingkan ‘katanya
dan katanya’ dibanding ‘nyatanya dan Allah ajarkan nya begini’.
Gundahlah ketika kita tidak lagi diberi ketenangan hati,
gundahlah ketika kita hanya memikirkan perkataan orang lain, tanggapan orang
lain,diatas efek amal yang kita tinggalkan karena itu semua
Resah, gundah-lah
Kita tidak sendiri, kita bersama-sama disini
Kalaupun pikiran dan raga kita yang berperang sendiri, maka
ada Allah yang menengahi
Isyarat rasul tidak pernah gagal dalam mengajarkan.
Produk hasil didikan Rasul tidak pernah gagal, Rasulullah
tidak pernah salah dalam memilih.
Menepi berarti kita membutuhkan jeda. Seperti kalimat yang membutuhkan
tanda koma agar pembaca nya tidak terengah karena panjangnya. Sama seperti
fungsi tanda koma, yang menjadi batas antara pemahaman satu dengan yang lain,
yang menjadi jeda intonasi agar supaya memudahkan dalam mencerna.
Apalagi, saat kita menepi, adalah saat saat kondisi ‘paling
jujur’ kita sama Allah. Disaat tidak ada tabir dialog antara kita dengan Allah.
Diiringi dengan ilmu yang akan membawa kita pada kesimpulan
Jadi, memang kondisi nya sudah sangat begini ya, makanya
aku galau?
Jadi, ternyata salahku. – kalau begini, berarti kita yang
harus berbenah
Jadi, ternyata….
Percaya deh, semua itu melegakkan.
Dengan petunjuk Rasul kita dibina, dengan petunjuk Allah
kita mulia. Mau berkiblat kemana lagi?
Mau lari kemana lagi?
Toh,sejauh apapun kita berlari,kita akan kembali. Sejauh apapun
pergi, kita akan pulang lagi
Dan ini adalah pulang yang hakiki
Pulang sejenak menjemput hidayah dan ketenangan hati, dari
Illahi Rabby
Jangan pergi pergi,ya?
Janji?



Kakkkk🌷💕💓
ReplyDelete