Pagi
Aku ingat sekali, dahulu
sewaktu usia ku masih jauh dibawah kepala dua, sering sekali ibu mengajakku ke
Pasar. Bukan main, pukul 3 pagi, setelah rangkaian ibadah dan sholat malam
tentunya.
" kalau masih pagi banget
itu sayuran nya masih lengkap dan fresh " begitu ujarnya
Aku hanya mengangguk, sambil
sedikit terkantuk kantuk pastinya. Namun setelah kujabarkan semuanya, sepatah
kalimat itu hanyalah Muqaddimah, atau pembuka atas nasehat dan nilai lain yang
silih terdialogkan seiring dengan menaiknya fajar dan mulai beratnya tanganku
membawa belanja sayuran.
" coba lihat, ada berapa rumah yang lampunya sudah
menyala dan berapa manusia yang sudah tampak batang hidungnya sepanjang ini?
"
aku berpikir,hmmm tidak
sedikit,tidak pula banyak. Apalagi, perihal lampu rumah yang sudah
menyala,haishhh perhatian betul aku ini
" banyaknya orang china ya,
Bu? "
" nah, betul. Kamu tau
kenapa orang china pagi pagi sudah keluar? bahkan start joggingnya pun sudah
lebih dahulu "
" mungkin mau belanja di
Pasar juga, cari yang Fresh " jawabku menirukan opini Ibu
Ibu terkekeh
" Orang China itu
mengantisipasi supaya bisa produktif di awal waktu. Makanya pagi pagi adalah
waktu emas bagi Mereka. Dan kamu tahu siapa yang paling menginspirasi mereka
untuk melakukan ini? "
kunaikkan alis, menggeleng
" Rasulullah SAW
"
" Rasulullah SAW? memang
mereka kenal dengan Rasulullah? memang mereka juga orang islam? "
Pertanyaanku ini ternyata harus
ditunda sejenak jawaban nya. Kulihat Ibu yang menghambur kembali di kios
sayuran, membaur dengan pembeli lain yang juga sedang menyeleksi apa yang akan
menjadi asupan terbaik untuk Keluarga Syurga nya nanti.Sesekali kuberi
senyum dan anggukan khas jawa kepada mereka, mereka membalas dengan sama
manisnya. Kuperhatikan Bapak Pedagang sayur yang menjadi " Raja "
ini, tangan nya lihai menimbang, mengambil uang kembalian, membungkus sayur dan
bumbu lainnya. Patutlah Bapak ini menjadi Idola sekaligus langganan banyak
sekali, karena pembawaan nya yang ramah dan "mau ditawar' khas Ibu Ibu,
dan lagi, beliau tak pernah menekuk mukanya meski tawaran sadis nan jitu
ditodongkan kepadanya. Beliau selalu menjawab dengan tenang,santai, tapi
menyenangkan. Setelah selesai, Ibu pun mengajakku berkeliling kembali,
Pemburuan selanjutnya.menuju kios daging
" sampai mana tadi ? "
" Rasulullah SAW, Ibu "
Ibu mengangguk, " mereka
memang tidak kenal dengan Rasulullah, tapi mereka dekat "
aku menyergit,
" mereka dekat dengan
kebiasaan Rasulullah SAW, mereka dekat dengan strategi dan apa apa yang
diajarkan Rasulullah SAW . Mereka tidak bertemu, mereka juga tidak bersyahadat,
tapi mereka takjub dengan sosok Rasulullah SAW "
" coba kamu ingat lagi kisah
yang Ibu bacakan saat sebelum tidur, apa saja kebiasaan Rasulullah di pagi
hari, Rasulullah di sore hari, dll. Namun bedanya, mereka tidak sholat seperti
Rasulullah shalat, mereka tidak bermunajat malam seperti Rasulullah bermunajat.
Maka kitalah yang harus menirunya. Jadi, wajarlah kalau kita melihat mereka
begitu tegap dan sehat, begitu giat dan tekun. Tak salah jika mereka disebut
Manusia Pagi . Karena mereka mencontoh Rasulullah SAW.
Pikiranku mencerna, beradu tempo
dengan langkah ibu yang tiba tiba lebih cepat dari tadi sewaktu berangkat.
“ kalau terlalu lama, nanti kesiangan. Ayah kan harus
berangkat kerja “
Aku memandang ibu takjub, bagiku
ibu adalah motivator berjalan bagiku, ibu juga chef yang handal, dan ibu adalah
penenang yang mendamaikan. Pagi itu aku mendengar, namun saat ini kucerna
menjadi sebuah keresahan.
Aku tahu mengapa orang muslim
sedang mengalami kemunduran, aku tahu mengapa orang muslim kini
diremehkan-meski tidak semua, aku tahu mengapa orang muslim kini mudah
dijatuhkan. Karena mereka pun tidak kuat menggenggam panduan , mereka hanya
membawanya, tanpa memeluknya erat. Bak terhempas
angin selewat.
Padahal ternyata dahsyat sekali
efeknya.
Soal sepele seperti bangun pagi
saja contohnya. Semua orang mengerti, tapi tak semua memahami, dan hanya
sedikit yang menerapi.
Sudah satu dekade lebih 1 tahun berlalu, baru
saja aku memahami betul perihal ini. Tak terasa, tanganku semakin penuh saja,
benarlah beberapa kantong plastik berisi daging, ikan dan sayuran sudah
bertengger di tangan. Ibu sudah mengangguk, tandanya sudah pas semua, dan kami
pun bergegas pulang.
“ Ibu kenapa beli ikan ini banyak
sekali?”
“ karena kaka dan ayah suka”
Satu lagi Pr untukku, menghafal
makanan favorit keluarga.
“besok, kalau sudah masuk SMP,kita buat jadwal masak ya? Latihan,
kalau sudah menikah besok, harus bisa membahagiakan suami. Salah satunya,
dimanjakan lidahnya” Ibu tersenyum jahil



Aaa, kerenn bgtt terinspirasii bgt sm kaka🥺🥺💗💗
ReplyDelete