alur
Dalam mencintai langit, kau juga harus mencintai badainya,
mencintai mendungnya, mencintai teriknya.
Begitu pun dalam mencintai rindang, kau pun mendapat teduh
dan semilir damainya.
Dalam mencinta, mengasih, maka ia memiliki paket yang tak
bisa dipilih, namun kita bisa berlatih menerimanya.
Tak hanya mencintai pantai mendapat siluet senja, pun pasang
naik dan tinggi ombaknya.
Mencintai suaranya pun harus bisa menyesuaikan naik turun getarannya.
Mencintai paras pun harus terbiasa dengan peluh kerut akan
lelahnya
Semua butuh menerima, semua butuh terbiasa.
Terbiasa menjadikan hal biasa menjadi luar biasa.
Setidaknya, yang aku yakini adalah bukan hanya mencinta lantas bernafas lega,
namun mencinta pun butuh berlaga, berlaga melayakkan sang “ dia “ agar benar
benar menerima energi damai dan kasih yang diberi.
Jika terlalu dini kata kata ini terlontar, kurasa jika dibanding
dengan learning by doing ini jauh lebih
baik. Mengimbangi kelemahan cinta yang selama
ini termaktub dalam kisah, seperti membuat ultimatum palsu bahwa
ternyata cinta itu menyakitkan sekali.
Benarlah, jika dahulu
Allah tak menciptakan otak depan sebagai pembeda antara manusia dengan
binatang ciptaan nya, maka sejatinya, kita berada dalam satu garis lurus.
Allah selalu indah dari segala hal,
Begitupun ciptaan nya, sang maha ‘indah’ menciptakan
keindahan.
Namun sesuatu yang yang indah itu, tidak selalu
terbungkus indah. Terkadang, kita harus
menikmati durinya dahulu, melewati curam tikungnya dahulu atau menikmati lelah
perjalanannya dahulu, dan semua adalah definisi indah.
Aku pernah mendenger bukti nyata tentang keindahan yang
pahit,
Bukti dari sahabat seorang yang paling mulia di muka bumi.
Adalah salman dan Abu Darda’ , adalah cinta yang harus rela diberi, adalah iman
yang kuat menancap dihati
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman
seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di
sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau
menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini
melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.,” fasih Abu Darda’ berbicara dalam
logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah,” menerima
Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi
keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi
hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”
Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga
sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut
itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda
berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa
puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga
memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban
mengiyakan.”
Keterusterangan yang di luar perkiraan kedua sahabat
tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar
daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan
persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang
membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman
memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia
ini:
”Allahu Akbar!” seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang
kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda,’ dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”
Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu
paham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta
merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab
qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan.
Ia juga sangat paham akan arti persahabatan sejati. Apalagi
Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah
seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya.
Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas
saudaranya.
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia
mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Begitulah langit dan badainya
Begitulah cinta dan pengorbanan nya
Semi pagi di sebrang kota budaya
28/10/23



Comments
Post a Comment