monumen jasa

 ketika sesorang berjasa dalam negaranya, sudah pasti sebuah monumen dibangun tuk berterimakasih serta berkenang dengan jasanya.

dan ketika ada sesuatu khas yang terlabeli pada suatu negara, maka sudah pasti sesuatu itulah pemenang dari kericuhan pemilihan maskot negara.

begitulah reflek manusia atas kehendak Allah mengajarkan kita, mereka adalah saksi bisu di tengah tengah bisingnya problematika. Mereka adalah saksi wewangi ditengah tengah busuknya makar makar dan siasat curang para pedebah yang diizinkan menghidup,namun mematikan sejatinya

sepertinya hal nya Allah meninggalkan ' monumen kehancuran ' kaum kaum terdahulu yang telah berjasa,yaa mereka berjasa, sebagai hikmah bagi kaum kaum setelahnya. Kaum Tsamud contohnya, atas keangkuhan nya yang tidak mau menerima seruan nabi Saleh AS, Allah lenyapkan mereka namun tidak dengan hasil karyanya. Rupanya, Hasil karya ini bukan sembarang karya, namun mahakarya. Bagaimana mungkin manusia zaman dahulu mampu memahat gunung menjadi perkotaan sebegitu indahnya? menyelisihi perkembangan teknologi yang 'katanya' sudah sangat modern. Para arkeolog dibuat pening,berdebat,lantas saling tidak mempercayai,mengulas kembali,begitu setelahnya. Namun ternyata, 1400 tahun yang lalu, Al Qur'an telah membahasnya sedemikian rupa satu paket dengan  perincian detailnya. Begitulah Al Qur'an mengajarkan kami tentang jasa. Tentang peninggalan yang meninggalkan histori klasik serta heroik didalamnya.

Tetapi, Al Qur'an tidak membutuhkan monumen tuk mengabadikan jasanya menyadarkan serta mengajarkan manusia seperti hal yang lain. Karena Al Qur'an sudah begitu terpatri dan tertancap dalam bak menghujam ulu hati para penikmatnya.

Al Qur'an tak perlu prasasti benda, ia sudah terprasasti di dalam jiwa para pemiliknya, para penjaganya.  Ironisnya, tak semua memahami, tak semua menyadari. Maka itulah Allah menyebut " bagi mereka yang memperhatikan " bukan disebut " untuk seluruh manusa ". Padahal jika Al Qur'an bekerja dalam diri kita, bersinergi pada diri kita, mungkin kita ini sudah tidak lagi pusing akan bumi yang semakin penuh, dimana manusia manusia ini akan tinggal, karena galaksi bintang pun sudah kita takhlukan. 

inilah maksud dari monumen itu, perhatikan kisah, perhatikan tanda tanda, perhatikan peninggalan.

Niscaya kita akan tinggal dengan kehebatan peninggalan yang tersulam kisah, tertunjuk tanda tuk kembali mengenal Rabb nya

yaa Allah, bimbinglah kami............


secercah berkah pagi,

sang ibu peradaban






Comments

Popular Posts